Selasa, 06 Januari 2009

Burbank Hydrogen Fuel Cell Bus: Bis Kota Tenaga Matahari


Teknologi sumber daya alternatif yang dikenal dengan nama Hydrogen Fuel Cell semakin meluas dan bahkan sudah mulai memasuki ke transportasi umum.

Perusahaan bis di Amerika, BurbankBus akan melakukan uji coba bis dengan teknologi Hydrogen Fuel Cell yang nanntinya akan mengganti bis dengan bahan bakar solar maupun gas.

Bis ini sendiri nantinya dapat mengangkut 67 penumpang dan menghasilkan suara mesin yang jauh lebih halus dibandingkan Metromini.

Bis ini dapat berjalan sejauh 250 mil (402 km) pada satu kali isi ulang (recharged) atau bila dihitung biaya "BBM" yang dikeluarkan, bis ini lebih hemat 2 kali lipat dibandingkan dengan mesin bis disel.

Sebagai tenaga cadangan, bis ini juga bisa diisi ulang melalui sumber listrik langsung yang hanya butuh waktu 6 menit saja.

The Uno : Motor Listrik Beroda Satu

sepeda motor listrik nampak dengan satu roda
Sepeda motor satu roda yang dinamakan The Uno ini diciptakan oleh Ben J. Poss Gulak asal Kanada. Kalau dilihat dari samping, sepeda motor ini nampak seperti hanya memiliki satu roda. Tapi sebetulnya terdapat dua roda yang menopang badan The Uno. The Uno merupakan sepeda motor listrik yang sudah pasti ramah lingkungan.

Pencemaran udara yang ditimbulkan oleh mesin-mesin sepeda motor dengan bahan bakar bensin dan kecelakaan pembakaran mesin yang sering terjadi telah mendorong seorang Ben untuk menciptakan sepeda motor listrik The Uno ini.


Dua roda menopang sepeda motor listrik The Uno

Sepeda Motor yang lahir dari tangan seorang pemuda berusia 18 tahun ini, merupakan motor yang unik dari segi bentuk maupun cara pengoperasiannya. Berat badan, posisi dan keseimbangan merupakan kunci dalam mengoperasikan motor seberat 54,4 kg ini. Untuk menghidupkan mesin motor ini, pengguna hanya tinggal menekan tombol on. Agar sepeda motor ini dapat bergerak ke depan, pengguna harus memindahkan berat badannya ke depan (badan semakin condong ke depan maka kecepatan akan semakin tinggi). Untuk menurunkan kecepatan / menggerakkan motor ke belakan, pengguna tinggal mencondongkan tubuhnya ke belakang.

Toyota City : Kota Hemat Energi Di Jepang


Sebuah pabrik mobil di Toyota City, di pinggiran Nagoya, Jepang, sebagian bangunannya dicat hijau muda yang sejuk di sela-sela gedung pabrik yang berwarna kelabu beton. Tempo, saat berkunjung ke pabrik itu sebulan silam, semula berpikir warna hijau ini cuma selera artistik para petinggi Toyota. Ternyata kesimpulan buru-buru ini salah.

Cat hijau itu, lewat proses fotokatalis, bisa memecah gas berbahaya, seperti nitrogen oksida dan sulfur oksida, menjadi zat yang tidak berbahaya, seperti karbon monoksida dan oksigen. Cat ini yang ditorehkan di dinding pabrik--akan selesai seluruhnya tahun ini--setara dengan 2.000 batang pohon poplar.

Toyota memang menjadikan pabrik di Toyota City--dikenal sebagai Pabrik Tsutsumi--sebagai salah satu proyek yang memperlihatkan bagaimana sebuah industri bisa lebih ramah lingkungan, mengurangi karbon yang dikeluarkan, dan lebih hemat energi.

"Toyota sudah bertahun-tahun aktif menerapkan prakarsa terkait lingkungan dan energi (dalam proses pembuatan kendaraan)," kata Presiden Toyota Motor Corporation Katsuaki Watanabe dalam acara lingkungan di Tokyo bulan lalu.

Toyota, seperti industri Jepang lain, memang mesti pintar dalam soal ini karena negeri itu nyaris tidak memiliki sumber daya alam terkait energi. Industri Jepang berusaha menguasai teknologi agar energi yang dikonsumsi jauh lebih hemat.

Isu lingkungan ini juga dibawa Jepang dalam pertemuan negara maju, G8, yang sedang berlangsung di sana. Jepang juga sangat membanggakan prestasi ini. "Teknologi superior dan semangat nasional menghindari limbah menjadikan Jepang memiliki struktur energi paling efisien di dunia," kata Perdana Menteri Yasuo Fukuda saat menjelaskan agenda dalam pertemuan G8 seperti dilansir New York Times.

Hasilnya, setiap dolar yang dikeluarkan Jepang untuk energi menghasilkan dua kali lipat kegiatan ekonomi dibanding Eropa atau Amerika Serikat pada 2005. Dibanding negara seperti Cina dan India, lebih banyak lagi. Setiap dolar energi Jepang menghasilkan delapan kali lipat kegiatan ekonomi dibanding dua negara berpenduduk terbanyak dunia itu.

Banyak contohnya bagaimana industri menghemat energi. Pabrik semen Taiheiyo di Kumagaya, misalnya, mengalirkan panas yang semula terbuang dalam proses ke ketel air. Ketel ini menghasilkan uap dan akhirnya menjadi listrik.
Sedangkan pabrik baja Keihin di Tokyo, yang dioperasikan oleh pabrik baja nomor dua Jepang, JFE, menggunakan panas dalam proses peleburan, yang semula dibiarkan terbuang atau dibakar, untuk mendidihkan air dan menggerakkan generator. Listrik yang dihasilkan di sini bisa memasok 90 persen listrik pabrik. Perubahan ini juga membuat energi untuk pabrik ini sebanyak 35 persen lebih sedikit dibanding 30 tahun silam.

Toyota, secara alamiah, mengikuti tren industri Jepang. Mereka bahkan membuat rencana jangka panjang untuk menghemat energi dan membuat lingkungan lebih hijau. Mereka bahkan sedang membuat target perencanaan baru. Gara-garanya? "Kami bisa mencapai tujuan target yang mestinya dicapai Maret 2011 pada Maret 2008," kata Watanabe.

Target ini dicapai tidak hanya dengan cat yang membuat adem itu. Pabrik Tsutsumi juga melakukan sejumlah upaya. Pertama, tentu saja, penghijauan. Di Indonesia, sebuah negeri tropis, bukan hal yang aneh satu tempat dihijaukan agar udara lebih adem. Tapi di Jepang, negeri empat musim, biasanya kompleks pabrik, ya sebuah pabrik. Kalaupun ada, jumlah pohon sangat terbatas.

Toyota juga membuat generator listrik lebih efisien. Generator ini dijalankan dengan mesin bertenaga gas. Semula pembangkitnya hanya seperti ini: gas menjalankan generator dan sisanya menjadi emisi.

Belakangan ini digunakan cara agar panas dari emisi ini dimanfaatkan lagi untuk mendidihkan air dan menggerakkan mesin uap. Energi yang semula terbuang pun dipakai kembali.

Listrik juga masih ditambah dengan panel surya di atap pabrik. Saat ini panel surya yang terpasang, menurut Toyota, terbesar di dunia. Energi yang dihasilkan mencapai 2 megawatt atau setara dengan sekitar 500 ribu liter setahun minyak mentah.

Toyota juga memikirkan proses untuk menghemat energi. Proses pengecatan misalnya. "Proses pengecatan menelan sekitar seperempat energi dalam proses manufaktur," kata Wakil Presiden Toyota Takeshi Uchiyamada, yang bertanggung jawab pada urusan pembuatan mobil.

Pabrik itu membuang satu tahapan pengecatan teknologi baru sehingga kualitas tidak berkurang. Selain itu, robot disempurnakan sehingga bisa menggunakan ruang yang lebih kecil untuk mengurangi energi.
Toyota optimistis pabrik-pabrik mereka, tidak hanya Tsutsumi, makin hijau. "Ke depan, kami akan lebih mengurangi emisi CO2 lewat kegiatan pabrik berkelanjutan di seluruh dunia," kata Watanabe. Jadi, jangan heran cat ajaib itu bakal muncul di pabrik-pabrik Toyota lain.

GREEN CAR : MOBIL BERTENAGA MATAHARI KELILING DUNIA


solartaxi

Dikutip dari Kompas.com

POZNAN, KAMIS - Teknologi bersih kini telah siap untuk digunakan menggantikan mesin-mesin lama yang tidak ramah lingkungan. Hal tersebut ditandai dengan dipamerkannya sebuah mobil bertenaga Matahari pertama yang sedang menyelesaikan perjalanannya keliling dunia.

Mobil kecil dan ringan dengan dua tempat duduk itu muncul di arena pertemuan mengenai perubahan iklim yang dihadiri delegasi dari 190 negara di Poznan, Polandia, Kamis (4/11). Pejabat PBB untuk Perubahan Iklim, Yvo de Boer menyempatkan diri untuk mencoba kendaraan tersebut menuju sebuah gedung tempat pertemuan berlangsung.

“Ini untuk pertama kalinya dalam sejarah sebuah mobil bertenaga Matahari berkeliling ke seluruh penjuru dunia tanpa menggunakan satu tetes pun bahan bakar minyak,” ujar Louis Palmer, seorang guru dan petualang dari Swiss yang mengendarai mobil tersebut.

Ia dengan bangga mengatakan bahwa teknologi mobil tanpa BBM sudah siap, baik untuk lingkungan, dan ekonomis. Tak kalah pentingnya teknologi ramah lingkungan yang dapat menekan laju pemanasan global sudah sangat layak digunakan.

Palmer muncul di Poznan setelah menyelesaikan perjalanan sejauh 52.000 kilometer. Ia berangkat dari Lucerne, Swiss 17 bulan lalu dan telah melewati 38 negara. Mobil yang tidak mengelaurkan suara sama sekali itu dapat melaju hingga 90 kilometer perjam dan menyelesaikan 300 kilometer dengan baterai yang berisi tenaga penuh. Palmer mengaku hanya berhenti dua hari sepanjang perjalanannya.

“Mobil ini berjalan seperti jam Swiss,” ujarnya untuk menggambarkan ketahanan mobil yang dikembangkan para ilmuwan Swiss itu. Palmer menyebutnya taksi Matahari karena sudah mengantarkan setidaknya 1000 orang penting dari berbagai belahan dunia. Antara lain Gubernur New York, Michael Bloomberg dan Sekjen PBB Ban Ki-moon.

Kehadirannya di Poznan untuk memberikan dukungan kepada sejumlah delegasi yang tengah membicarakan upaya pengendalian pemanasan global. Mereka sedang membicarakan draft perjanjian baru pascaberakhirnya Protokol Kyoto tahun 2012. Hasil pembahasan tersebut diharapkan selesai dan siap disepakati dalam pertemuan di Kopenhagen, Denmark pada September 2009.

“Di konferensi ini, kita membicarakan penurunan emisi antara 10-20 persen. Saya ingin menunjukkan bahwa kita bisa menurunkan emisi hingga 100 persen,” ujar Palmer.

Daftar Ilmuwan Hijau Indonesia

+ Abdul Jamil Ridho & Niti Soedigdo - Penemu Varietas Unggul Singkong Raksasa
+ Adi Rahman Adiwoso - Penemu Teknologi Baru dalam Telepon Bergerak Berbasis Satelit
+ Alexander Kawilarang - Penemu Kapal Ikan Bersirip
+ Andrias Wiji Setio Pamuji - Penemu Reaktor Biogas
+ Arief Indrasumunar - Penemu Kloning Gen-gen dalam Pembentukan “Root Nodule” pada Kedelai
+ Arief Mulyana Djumra - Penemu Pemacu Produktifitas dan Kualitas Udang dan Ikan
+ Aryadi Suwono & Tim Peneliti ITB - Penemu Bahan Pendingin Baru yang Lebih Hemat Energi
+ Ayub S. Parnata - Penemu Bakteri Kompos Organik
+ Bacharuddin Jusuf Habibie - Penemu Teori, Faktor dan Metode Habibie (Teknologi Pesawat Terbang)
+ Budi Noviantoro - Penemu Klip Penambat Bantalan Kereta Api dengan Dua Gigi
+ Dani Hilman Natawijaya - Penemu Indikator Alam (Terumbu Karang) terhadap Siklus Gempa
+ Djuanda Suraatmadja - Penemu Beton Polimer yang Ramah Lingkungan
+ Djoko Suprapto - Penemu Bahan Bakar dari Air
+ Eddyman, Intan Elfarini & Kanaka Sundhoro - Penemu Obat Antinyamuk Alami dan Murah
+ Evvy Kartini - Penemu Penghantar Listrik Berbahan Gelas
+ Fuad Affandi - Penemu Pupuk Alami dari Air Liur
+ Haryadi - Penemu Alat Penghancur Jarum Suntik Bekas
+ Herman Johannes - Penemu Tungku Berbahan Bakar Briket Arang Kayu dan Dedaunan
+ I Gede Ngurah Wididana - Penemu Formula Minyak Oles Bokhasi
+ I Made Budi - Penemu Formula Sari Buah Merah untuk Pengobatan
+ Johny Setiawan - Penemu Bintang Muda dan Planet Pertamanya
+ Lalu Selamat Martadinata - Penemu Alat Pemanggil Ikan
+ M. Djoko Srihono - Penemu Penjernih Air Limbah
+ Maruni Wiwin Diarti - Penemu Senyawa Antimikroba dari Rumput Laut
+ Miftahul Khairi - Penemu Penghapus Papan Tulis Elektrik
+ Minto - Penemu Kompor dan Pengering Hasil Tani dengan Tenaga Matahari
+ Mumu Sutisna - Penemu Hormon Penyubur Anakan Padi
+ Mulyoto Pangestu - Penemu Teknik Ekonomis Pembekuan Sperma
+ Nyamani - Penemu Alat Penambal Ban Elektrik
+ Neny Nurainy - Penemu Varian Virus Hepatitis B Indonesia
+ Puji Slamet Arif - Penemu Motor Listrik Hemat Energi
+ Rahmiana Zein - Penemu Teknik Pemisahan Cairan dalam Kecepatan Tinggi
+ Randall Hartolaksono - Penemu Formula Kimia Pemadam Api Ramah Lingkungan
+ Rizal & Juffri Sahroni - Penemu Penghemat Bahan Bakar Diesel
+ Robert Manurung - Penemu Minyak Jarak Murni
+ Saverinus Nurak - Penemu Mesin Pompa Tangan Berkekuatan Tinggi
+ Suparmin Sinuang Rahardja - Penemu Kompor Berbahan Bakar Air
+ Sutjipto & Ryantori - Penemu Konstruksi Fondasi Sarang Laba-laba
+ Sutrisno - Penemu Alat Perangkap Lalat Buah
+ Sedijatmo - Penemu Konstruksi Fondasi Cakar Ayam
+ Septinus George Saa - Penemu Rumus Penghitung antara Dua Titik Rangkaian Resistor . . .
+ Sofin Hadi - Penemu Metode Cincin untuk Sunat Tanpa Luka
+ Sri Wuryani, Mustadjab, Euis M. Nirmala, Siwi Hardiastuti - Penemu Pengawet Aroma dalam Hampa
+ Tjokorda Raka Sukawati - Penemu Landasan Putar Bebas Hambatan Sosrobahu
+ Warsimin Adiwarsito - Penemu Marmer Buatan
+ Widowati Siswomihardjo - Penemu Bahan Baru untuk Gigi Palsu yang Lebih Aman dan Murah
+ Windu Hernowo - Penemu Penghemat Bahan Bakar Mesin
+ Yanto Lunardi Iskandar - Anggota Tim Penemu HIV & Metode Peningkatan Hematopoiesis
+ Yudi Utomo Imardjoko - Penemu Kontainer Limbah Nuklir
+ Zahlul Badaruddin - Penemu Zahlul Integrated Unit (Desain Sistem Efisien untuk Produksi Obat/Kimia


Apa jadinya jika solar dicampur dengan air, bisakah digunakan sebagai bahan bakar? jika pertanyaan itu ditujukan pada dosen saya di Universitas Trisakti Dr Ir M.Hafnan MEng, maka dengan cepat dia akan mengatakan bisa. Hafnan ternyata berhasil menemukan racikan zat aditif yang bisa mencampurkan solar dengan air tanpa mengganggu kestabilan campurannya. Formula ini diberi nama solar hijau, hasil penelitiannya selama enam tahun.

Belum lama dia dan timnya mempresentasikan temuannya itu di kantor Ditjen Minyak dan Gas Bumi (Migas) departemen ESDM. Presentasi itu sendiri dihadiri oleh Dirjen Migas Dr Ing Evita H.Legowo, direktur pengembangan hilir gas dan minyak Ir Saryono Hadiwidjoyo SE, direktur di Direktorat Teknik dan Lingkungan Migas Ir Suyartono MSc, dan mantan President director PT Medco Energy International John S.Karamoy.

Dalam presentasinya itu mula-mula Hafnan mengambil air di dalam tabung, lalu dicampurkan kedalam tabung yang sudah berisi solar. Dengan sebuah alat campuran air dan solar itu diaduk, kemudian ditambahkan zat aditif. Tak lama kemudian seluruh campuran tersebut menyatu dan warnanya sama dengan warna solar semula. Fungsi dari zat aditif tadi adalah untuk membuat air bisa menyatu dengan solar. Formula zat aditif inilah hasil temuan Hafnan dan sudah dipatenkan.

Lalu apa bedanya solar hijau ini dengan solar yang dijual dipasaran? dosen yang mendalami combustion engine (motor bakar) di Ritsumeikan University Kyoto Jepang ini mengatakan bahwa solar hijau ini lebih ekonomis dan ramah lingkungan. Apabila digunakan sebagai bahan bakar, dapat menurunkan emisi hingga 40 persen.

Hafnan menambahkan bahwa solar hijau ini sendiri sudah di tes di berbagai tempat, dan rata-rata biaya yang dikeluarkan untuk sekali tes saja bisa mencapai 100-200 juta. Salah satu tempat pengujiannya adalah di Laboratorium Motor Bakar dan Sistem Propulsi (LMBSP) ITB. Hasil tes di ITB itu menunjukkan bahwa dengan solar hijau terjadi penurunan gas buang NOx maksimal 42 persen; CO maksimal 22,6 persen; dan opasitas maksimal 3,2 persen. Selain itu dapat menghemat bahan bakar maksimal 12 persen pada beban tinggi (80 persen) serta tidak mengganggu kinerja mesin.

Selain di ITB, solar hijau ini juga sudah di uji di PLTD Sungai Kupang, Kalimantan Selatan. Spesifikasi mesin yang digunakan saat itu adalah Diesel Engine Deutz BF8 (1996), 8 Cylinder V Engine, 280kVA, 1500rpm. Hasil yang didapat adalah, emisi gas buang menjadi bersih, tidak terjadi gangguan kinerja mesin maupun kerusakan mesin, dan tidak terjadi pemborosan bahan bakar. Dari hasil uji coba di PLTD ini, Hafnan mengklaim bahwa apabila solar hijau digunakan sebagai bahan bakar mesin pembangkit listrik, maka PLN bisa menghemat anggaran pembelian solar. Saat ini kebutuhan solar untuk pembangkit listrik PLN se-Indonesia sekitar 40 juta liter per hari, maka dengan menggunakan solar hijau Hafnan yakin PLN bisa meghemat solar sekitar 4 juta liter per hari.

Sedangkan untuk komposisinya, solar hijau ini menggunakan 75 persen solar, 10 persen air, dan 15 persen zat aditif. Zat aditif ini sendiri diracik dari minyak mentah (crude oil) dan bahan kimia. Lantas apa tanggapan para peserta tentang karya Hafnan ini? ternyata sebagian besar mereka mengatakan sangat tertarik. Mereka berjanji akan mempelajari solar hijau ini terlebih dahulu apakah memungkinkan untuk diproduksi secara komersial atau tidak. Semoga ini bisa menjadi salah satu solusi dalam menghadapi krisis bahan bakar yang sangat menyulitkan kita akhir-akhir ini.

Mencuci Tanpa Air


Mesin cuci Samsung dapat mencuci tanpa air. Kotoran hilang, bau tak sedap pun melayang.

Umumnya kita masih mencuci menggunakan air. Namun, sejak tahun lalu sebenarnya telah beredar sebuah mesin cuci yang dapat mencuci tanpa air. Salah satu produsen yang mengembangkan mesin cuci tanpa air ini adalah Samsung asal Korea. Produknya yang diberi nama SAMSUNG Air Wash dapat mencuci pakaian dan material fabric lainnya hanya dengan menggunakan udara panas.

Sistem Air Wash merupakan teknologi mesin cuci revolusioner yang dapat mendeteksi allergen dan mikroba berbahaya yang kasat mata menggunakan perputaran udara panas sehingga sangat efektif untuk membuat cucian lebih bersih, segar, dan higienis. Dengan teknologi ini , pakaian pun menjadi lebih terawat dan awet untuk jangka waku lama.

Inovasi teknologi pada mesin cuci Samsung WD-B1255 atau WD-6102CKC menawarkan solusi bagi konsumen yang sangat peduli akan kesehatan dan kebersihan lingkungan. Meskipun dirancang dengan teknologi dan desain modern, Samsung WD-B1255 dan WD-6102CKC dikembangkan dengan teknologi yang ramah lingkungan. Ia dapat mencuci cepat tanpa menggunakan deterjen atau bahan kimia lainnya. Sebagai gantinya, mesin cuci Samsung ini bekerja menggunakan sistem cucian tanpa air (dry cleaner).

Teknologi Samsung Air Wash telah diuji coba di Institute of Tropical Medicine, Department of Parositology, Yonsei University College of Medicine Seoul Korea, dan menerima sertifikasi pada Juni 2005 atas kemampuannya membunuh kuman hingga 99.6%.